Pengertian Media, Landasan Teoritis dan Ciri Media Pembelajaran
A. Pengertian
Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa
latin yaitu medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau
“pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan
dari pengirim kepada penerima pesan.
Menurut Gerlach dan Ely (1971),
media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian
yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan lingkungan sekolah
marupakan media.
Fleming (1987: 234) menyatakan
media berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak yaitu
siswa dan isi pelajaran.
Hainich dan kawan-kawan (1982)
mengemukakan istilah media sebagai perantara yang mengantar informasi antara
sumber dan penerima.
Kesimpulannya, media adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
1. Media Pembelajaran
Media pembelajaran adalah media
yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung
maksud-maksud pengajaran menurut Gagne dan Briggs (1975) media pembelajaran
meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi
pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder, kaset, video camera, video
recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, televisi dan computer.
2. Media Pendidikan
Adapun pengertian media
pendidikan itu antara lain:
a. Media pendidikan memiliki
pengertian fisik (hardware) atau perangkat keras, yaitu sesuatu benda yang
dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panea indera.
b. Media pendidikan memiliki
pengertian nonfisik (software) atau perangkat lunak, yaitu kandungan pesan yang
terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada
siswa.
c. Penekanan media pendidikan
terdapat pada visual dan audio.
d. Media pendidikan memiliki
pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
e.Media pendidikan dapat
digunakan secara missal (radio, TV), kelompok besar dan kecil (film, slide,
video, OHP), atau perorangan (modul, computer, radio, tape,/kaset, video
recorder).
Jadi kesimpulannya, media
pendidikan adalah perantara yang membawa informasi atau pesan-pesan sebagai
sumber belajar, baik berupa software dan hardware. Contoh media pendidikan adalah
gambar, foto, sketsa, diagram, bagan/chart, grafik, kartun, poster, radio dan
lain-lain.
B. Landasan
Penggunaan Media Pembelajaran
Penggunaan media dalam proses
pembelajaran dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas prestasi belajar.
Diharapkan proses pembelajaran menjadi efektif, interaktif, dan efisien. Adapun
beberapa landasan dalam penggunaan media pembelajaran, adalah sebagai berikut:
1. Landasan
Filosofis
Ada suatu pandangan, bahwa dengan
digunakannya berbagai jenis media hasil dari teknologi baru di dalam kelas,
akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bisa dikatakan,
penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Tetapi, siswa
harkat kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara
maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan
teknologi tidak berarti dehumanisasi.
Jika guru menganggap siswa
sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri,motivasi, dan
memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain, maka baik menggunakan
media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan
tetap menggunakan pendekatan humanis.
2. Landasan
Psikologis
Dengan memperhatikan kompleks dan
uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran
akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi
siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan
media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar,
memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Untuk maksud tersebut, perlu: (1)
diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa
serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang
akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan
bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang
abstrak.
Dalam proses pembelajaran, media
memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan kualitas pengajaran. Kehadiran
media tidak saja membantu pengajar dalam menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan
nilai tambah pada kegiatan pembelajaran.
Ada beberapa pendapat dari beberapa para ahli landasan
psikologis dalam penggunaan media pembelajaran, diantaranya:
aa. Teori Perkembangan Kognitif Jean Peaget
Jean
Peaget, seorang psikolgis dan pendidik yang terkenal karena teori pembelajaran
berdasarkan tahapan-tahapan yang berbeda-beda
dalam perkembangan intelegensi anak. Kognitif adalah salah satu ranah
dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan
antara lain pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisa, sintesa, dan evaluasi.
Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan
kemampuan rasional (akal).
bb. Kerucut Pengalaman Edgar Dale
Kajian
psikologis mengatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkret
ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan konkret-abstrak dan kaitannya dengan
penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat di antaranya:
o
bahwa dalam
proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran
atau film ( iconic representation of experiment) kemudian ke belajar
dengan simbol, yaitu menggunakan
kata-kata (symbolic representation ). Hal ini juga berlaku tidak hanya
untuk anak, tetapi juga untuk orang dewasa.
o
Bahwa
sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman
konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang
paling abstrak.
o
Membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam
pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata,
dilanjutkan ke siswa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan
media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan
symbol. Jenjang konkrit-abstrak ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk
kerucut pengalaman (cone of experiment).
3. Landasan
Teknologis
Teknologi pembelajaran adalah
teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan
penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses
kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan
organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan,
mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana
kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Dalam teknologi pembelajaran,
pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem
pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam
pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadisistem pembelajaran yang
lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan,
teknik, dan latar.
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)[1].
Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar. Untuk mencapai sasaran akhir ini, teknolog-teknolog di bidang pembelajaran mengembangkan berbagai sumber belajar untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik sesuai dengan karakteristiknya.
Dalam upaya itu, teknolog berkerja mulai dari pengembangan dan pengujian teori-teori tentang berbagai media pembelajaran melalui penelitian ilmiah, dilanjutkan dengan pengembangan disaignnya, produksi, evaluasi dan memilih media yang telah diproduksi, pembuatan katalog untuk memudahkan layanan penggunaannya, mengembangkan prosedur penggunaannya, dan akhirnya menggunakan baik pada tingkat kelas maupun pada tingkat yang lebih luas lagi. Semua kegiatan ini dilakukan oleh para teknolog dengan berpijak pada prinsip bahwa suatu media hanya memiliki keunggulan dari media lainnya bila digunakan oleh peserta didik yang memiliki karakteristik sesuai dengan rangsangan yang ditimbulkan oleh media pembelajaran itu. Dengan demikian, proses belajar setiap peserta didik akan amat dimudahkan dengan hadirnya media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik belajarnya. Media pembelajaran sebagai bagian dari teknologi pembelajaran memiliki enam manfaat potensial dalam memecahkan masalah pembelajaran, yaitu:
a. Meningkatkan produktivitas pendidikan ( Can make education more productive). Dengan media dapat meningkatkan produktivitas pendidikan antara lain dengan jalan mempercepat laju belajar siswa, membantu guru untuk menggunakan waktunya secara lebih baik dan mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar siswa.
b. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual (Can make education more individual).Pembelajaran menjadi lebih bersifat individual antara lain dalam variasi cara belajar siswa, pengurangan kontrol guru dalam proses pembelajaran, dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuan dan kesempatan belajarnya.
c. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran ( Can give instruction a more scientific base). Artinya perencanaan program pembelajaran lebih sistematis, pengembangan bahan pembelajaran dilandasi oleh penelitian tentang karakteristik siswa, karakteristk bahan pembelajaran, analisis instruksional dan pengembangan disaign pembelajaran dilakukan dengan serangkaian uji coba yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
d. Lebih memantapkan pembelajaran (Make instruction more powerful).
Pembelajaran menjadi lebih mantap dengan jalan meningkatkan kapabilitas manusia menyerap informasi dengan melalui berbagai media komunikasi, di mana informasi dan data yang diterima lebih banyak,lengkap dan akurat.
e. Dengan media membuat proses pembelajaran menjadi lebih langsung/seketika (Can make learning more immediate). Karena media mengatasi jurang pemisah antara peserta didik dan sumber belajar, dan mengatasi keterbatasan manusia pada ruang dan waktu dalam memperoleh informasi, dapat menyajikan “kekonkritan” meskipun tidak secara langsung.
f. Memungkinkan penyajian pembelajaran lebih merata dan meluas (Can make access to education more equal)[1].
4. Landasan
Empiris
Temuan-temuan penelitian
menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik
belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan
mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media
yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya.
Siswa yang memiliki tipe belajar
visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media
visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang
memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio,
seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual.
Berdasarkan landasan
rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan
atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara
karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik
media itu sendiri.
5. Landasan
Historis
Yang dimaksud dengan landasan
historis media pembelajaran ialah rational penggunaan media pembelajaran
ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya
konsepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.
C. Ciri-Ciri
Media Pembelajaran
Media pembelajaran sebagai alat
penunjang untuk mencapai tujuan pembelajaran maksimal, memiliki beberapa ciri.
Ciri media pembelajaran yang dimaksud adalah hal melekat dalam sebuah media,
sehingga layak atau patut digunakan sebagai media. Gerlach dan Ely mengemukakan
tiga ciri media pembelajaran, yaitu:
1. Ciri
Fixative
Ciri ini menggambarkan kemampuan
media pembelajaran merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu
peristiwa atau obyek. Banyak kejadian-kejadian penting atau objek-objek yang harus dipelajari
oleh siswa. Kejadian-kejadian itu tentu saja sering kali sudah berlalu,
misalnya saja peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di suatu
negara. Siswa dapat mepelajari bagaimana peristiwa atau
kejadian-kejadian itu melalui rekaman video dokumentasi, dan foto-foto.
Objek-objek biotik ataupun abiotik yang unik dan harus dipelajari oleh
siswa dapat dihadirkan dengan gampang diruang kelas dengan rekaman video
atau foto. Peristiwa dan objek-objek pembelajaran dengan demikian dapat
dihadirkan setiap waktu jika dikehendaki.
2. Ciri
Manipulatif
Kejadian yang memakan waktu
berhari-hari dapat disajikan kepada peserta didik dalam waktu dua atau tiga
menit, misalnya bagaimana proses metamorfosis kupu-kupu dapat dipercepat dengan
teknik rekaman fotografi. Disamping dapat dipercepat, suatu kejadian dapat pula
diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil suatu rekaman video. Teknologi telah menjadikan media pembelajaran mempunyai peranan yang
amat penting untuk memberikan pemahaman akan suatu peristiwa atau objek
bagi siswa. Manipulasi kejadian atau objek dengan jalan mengedit hasil
rekaman dapat menghemat waktu.
3. Ciri
Distributif
Ciri distributif media
pembelajaran memungkinkan suatu obyek/ kejadian ditransportasikan melalui
ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar
peserta didik dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian
itu.
Rekaman film dan foto, pada era digital sekarang dengan sangat mudah
didistribusikan tanpa terkendala ruang dan waktu. Kejadian di
daerah-daerah yang sulit atau bahkan tidak mungkin dikunjungi oleh siswa
dapat dihadirkan di ruang kelas mereka tanpa memerlukan banyak usaha
keras. Penggunaan internet atau perangkat penyimpan data seperti
flashdisk, CD, dan sebagainya memudahkan bahan-bahan pembelajaran
tersebut didistribusikan. Konsistensi informasi yang terdapat didalamnya
akan selalu terjaga sebagaimana aslinya.
assalamualaikum, saya ingin bertanya sedikit seperti yang kita ketahui bahwa media merupakan alat bantu bagi setiap guru yang akan menyajikan materi,nah menurut anda media yang seperti apa yang cocok kita gunakan jika kita ingin menyajikan materi khususnya pelajaran kimia pada anak sma?
BalasHapusWaalaikumussalam, menurut saya media yg cocok untuk menyajikan materi kimia kepada peserta didik itu disesuaikan dengan materi yg akan kita ajarkan. Misalnya kita akan mengajar tentang asam basa. Kita bisa menggunakan alat bantu powerpoint untk menjelaskan materi asam basa yg menjelaskan tentang sifat asam dan basa kemudian dilengkapi dengan vidio yg menjelaskan bahwa asam bisa menghantarkan arus listrik. Vidio yg ditampilkan yaitu ptaktik membuktikan bahwa dari benda yg bersifat asam bisa menyalakan lampu meski tidak dalam nyala yg kuat.
BalasHapusAssalamualaikum, pada kalimat ini "Sasaran akhir dari teknologi pembelajaran adalah memudahkan peserta didik belajar" jika dilihat dari keadaan sekarang apakah teknologi pembelajaran telah mencapai sasarannya?
BalasHapusMohon maaf sebelumnya hanya ingin memberi saran untuk memilih warna pada tulisan lebih baik jangan yang mendekati dengan warna background, karena sulit dilihat.. terimakasih
BalasHapusTerima kasih atas saran dan pertanyaan dari saudari Dwindah, jika dilihat dari keadaan sekarang menurut saya teknologi sudah mencapai sasarannya yaitu memudahkan peserta didik belajar. Hanya saja minat dan keingintahuan dari peserta didik semakin berkurang dengan berkembangnya teknologi. Mereka cendrung menyalahgunakan teknologi yang semakin berkembang. Contohnya saja, pada zaman sekarang hampir semua peserta didik sudah memiliki handphone yang mempunyai akses internet. Setiap materi pembelajaran yang mereka pelajari sudah ada di internet, dan bisa menjadi bahan bacaan. Hanya saja mereka malas dan menggunakan handphone tersebut untuk media sosial, chating, dan sebagainya.
BalasHapusDi dalam postingan adnda dijelaskan "siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya" yang ingin saya tanyakan keuntungan yang signifikan yg didapatkan siswa itu dalam bentuk bagaimana? Jika bisa berikan beserta contoh nya?
BalasHapusMaksudnya disini siswa akan lebih mudah menyerap sutu informasi bila media yang digunakan sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Contohnya, jika seseorang lebih mudah menerima suatu informasi dengan adanya praktek langsung, maka dia bisa menggunakan media yng bisa menampilkan vidio atau langsung mempraktekkan materi tersebut.
Hapuspada kerucut pengalaman Edgar Dale anda menyebutkan "Jenjang konkrit-abstrak ini ditunjukkan dengan bagan dalam bentuk kerucut pengalaman (cone of experiment)". tolong tunjukkan bagaimana bagan bentuk kerucut pengalaman? dan contoh jenjang konkrit-abstrak?
BalasHapusUntuk pertanyaan saudari Elsy, akan saya tambahkan pada postingan di blog saya.
HapusSecara harfiah, kata media berasal dari bahasa latin medium yang memiliki arti “perantara” atau “pengantar”. Menurut Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Guruan (Association for Education and Communication technology/AECT) mendefinisikan media sebagai benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar, dapat mempengaruhi efektifitas program instruksional (Asnawir dan Usman,2002:11). Gerlach & Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,hotografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal(Arsyad, 2002:3). Gagne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar,sementara itu Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar (Arif S.Sadiman, 2003:6).
BalasHapusTerimakasih karena telah melengkapi materi saya.
HapusPenelitian-penelitian yang menggunakan media pembelajaran menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memilih tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atua film.
BalasHapusTerimakasih saudari Nova atas tambahan jawabannya.
Hapussaya ingin menambahkan pada landasan historis
BalasHapusYang dimaksud dengan landasan historis media pembelajaran ialah rasional penggunaan media pembelajaran yang ditinjau dari sejarah konsep istilah media digunakan dalam pembelajaran. Untuk mengetahui latar belakang sejarah penggunaan konsep media pembelajaran marilah kita ikuti penjelasan berikut ini.
Perkembangan konsep media pembelajaran sebenarnya bermula dengan lahirnya kon-sepsi pengajaran visual atau alat bantu visual sekitar tahun 1923.Yang dimaksud dengan alat bantu visual dalam konsepsi pengajaran visual ini adalah setiap gambar, model, benda atau alat yang dapat memberikan pengalaman visual yang nyata kepada pebelajar.
Kemudian konsep pengajaran visual ini berkembang menjadi “audio visual instruction” atau “audio visual education” yaitu sekitar tahun 1940. Sekitar tahun 1945 timbul beberapa variasi nama seperti “audio visual materials”, “audio visual methods”, dan “audio visual devices”. Inti dari kosepsi ini adalah digunakannya berbagai alat atau bahan oleh guru untuk memindahkan gagasan dan pengalaman pebelajar melalui mata dan telinga. Pemanfaat-an konsepsi audio visual ini dapat dilihat dalam “Kerucut Pengalaman” dari Edgar Dale.
Perkembangan besar berikutnya adalah munculnya gerakan yang disebut “audio visual communication” pada tahun 1950-an. Dengan diterapkannya konsep komunikasi dalam pembelajaran, peekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan yang berupa bahan audio visual untuk pembelajaran, tetapi dipusatkan pada keseluruhan proses komu-nikasi informasi atau pesan dari sumber (guru, materi atau bahan) kepada penerima (pebelajar). Gerakan komunikasi audio visual memberikan penekakan kepada proses komunikasi yang lengkap dengan menggunakan sistem pembelajaran yang utuh. Jadi konsepsi audio visual berusaha mengaplikasikan konsep komunikasi, sistem, disain sistem pembelajaran dan teori belajar dalam kegiatan pembelajaran.
Perkembangan berikutnya terjadi sekitar tahun 1952 dengan munculnya konsepsi “instructional materials” yang secara kosepsional tidak banyak berbeda dengan konsepsi sebelumnya. Karena pada intinya konsepsi ini ialah mengaplikasikan proses komunikasi dan sistem dalam merencanakan dan mengembangkan materi pembelajaran. Beberapa istilah yang merupakan variasi penggunaan konsepsi “instructional materials” adalah “teaching/ learning materials”, “learning resources”.
Dalam tahun 1952 ini juga telah digunakan istilah “educational media” dan “instructional media”, yang sebenarnya secara konsepsional tidak mengalami perubahan dari konsepsi sebelumnya, karena di sini dimaksudkan untuk menunjukkan kegiatan komunikasi pendidikan yang ditimbulkan dengan penggunaan media tersebut. Puncak perkembangan konsepsi ini terjadi sekitar tahun 1960-an. Dengan mengaplikasikan pendekatan sistem, teori komunikasi, pengembangan sistem pembelajaran, dan pengaruh psikologi Behaviorisme, maka muncullah konsep “educational technology” dan/ atau “instructional technology” di mana media pendidikan atau media pembelajaran merupakan bagian dari padanya.